Get Adobe Flash player

Translate

Share on facebook
Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini540
mod_vvisit_counterKemarin342
mod_vvisit_counterMinggu ini540
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5308
mod_vvisit_counterBulan Ini14201
mod_vvisit_counterBulan Lalu29277
mod_vvisit_counterTotal523964

We have: 8 guests, 3 bots online
No: 54.204.178.31
 , 
No

Terima Kasih Telah Berkunjung Ke Situs BAKUMSU.OR.ID

Menuntut Profesionalisme POLRI dalam Kasus PTPN II Deli Serdang Sumut

Hari ini Selasa, 19 Juni pukul 11.00 wib Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Sawit Watch, Elsam, Walhi, YLBHI, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengadakan temu pers menyikapi kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terkait kasus petani Sei Mencirim Deli Serdang yang berkonflik dengan PTPN II.

Dikatakan, Konflik pertanahan yang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu menyisakan derita pedih yang tak berkesudahan. Sejak konflik mengemuka hingga saat ini lebih dari 100 orang menjadi korban kekerasan. Termasuk 3 (tiga) orang yang
pernah ditembak aparat kepolisian di tahun 1998 lalu.

Peristiwa terakhir adalah diculiknya 6 (enam) warga hingga berujung pada penahanan sewenang-wenang yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap Zakaria (46), Arifin Keliat (63), Alpiyan, Jafaruddin (42), Sapriadi (32) dan Edi Polo (30).

Disinyalir penculikan dan penahanan sewenang-wenang ini merupakan  buntut dari peristiwa  tanggal 19 April dan 22 Mei 2012, dimana 2 kali terjadi  bentrok antara warga dan PTPN II.  Saat itu pihak PTPN-II mendatangi lahan milik masyarakat Desa Sei Mencirim dan Desa Namurube Julu untuk melakukan okupasi lahan, melihat rombongan dari pihak PTPN-II masyarakat sekitar melakukan penghadangan terhadap rombongan tersebut. Peristiwa  ini telah dilaporkan oleh warga tanggl 28 Mei 2012 ke Polsek Kutalimbaru, namun hingga saat ini laporan tersebut tidak pernah ditindaklanjuti oleh Kepolisian setempat.

Belakangan, aparat kepolisian malah cenderung agresif dengan melakukan penculikan (penangkapan diluar prosedur)  dan penahanan sewenang-wenang terhadap warga.  Alih-alih menindaklanjuti laporan masyarakat, yang terjadi
justru sebaliknya, aparat kepolisian bertindak sebagai centeng perkebunan dengan melakukan berbagai tindakan intimidasi hingga kriminalisasi terhadap petani. Sampai saat ini pun tindakan teror terhadap masyarakat masih tetap
berlangsung, seperti patroli dengan pasukan secara berlebihan pada jam-jam tertentu seperti layaknya medan perang.

Terkait dengan peristiwa tersebut kami menuntut kepada Kapolda Sumatra Utara untuk:

1.            Berhenti bersikap menjadi *centeng* perusahaan dalam penanganan konflik perkebunan termasuk hentikan tindakan teror, intimidasi, penculikan dan penahanan secara sewenang-wenang terhadap warga serta menarik pasukan yang berlebihan dilapangan.

2.            Menindak dengan tegas aparat kepolisian yang melakukan tindakan penculikan, penangkapan dan penahanan yang tidak sesuai dengan prosedur terhadap 6 (enam) orang warga tersebut.

3.            Memberikan akses seluas-luasnya bagi pemberi bantuan hukum untuk membantu warga yang saat ini ditahan oleh kepolisian.

4.            Bersikap adil dan tidak memihak perusahaan, dengan menindaklanjuti laporan warga ke Polsek Kutalimbaru pada tanggal 28 Mei 2012 dengan nomor laporan polisi: STPL/46/V/2012/Rest.Medan/Sek.Kutalim, terkait dengan penyerangan yang dilakukan oleh pihak PTPN-II tanggal 22 Mei 2012. **


Share |
 
Kategori Berita

Tabel Kasus Tanah Di SUMUT dapat di unduh disini